#
Lopo Kopi Mas Coy

Lopo Kopi Mas Coy: Berjalan Pelan di Antara Harapan yang Pernah Patah

×

Lopo Kopi Mas Coy: Berjalan Pelan di Antara Harapan yang Pernah Patah

Sebarkan artikel ini
Lopo Kopi Mas Coy: Berjalan Pelan di Antara Harapan yang Pernah Patah

TITIKUTARA NEWS, SERIAL LOPO KOPI MAS COY – Malam di Lopo Kopi Mas Coy selalu punya cara sendiri untuk membuat orang betah.

Lampu kuning di teras menyala redup. Beberapa kursi plastik sudah ditempati pelanggan tetap. Dari dapur kecil di belakang, aroma kopi bercampur dengan pisang goreng yang baru diangkat dari wajan.

Mas Coy berdiri di balik meja sambil menghitung uang receh.

“Roh, ini uang kurang,” katanya.

Kak Saroh yang sedang menyusun gelas menoleh.

“Kurang berapa?”

“Entahlah.”

“Lho, kok entahlah?”

“Kan saya baru menghitung.”

Kak Saroh menghela napas.

“Kalau belum selesai menghitung, bagaimana kau tahu kurang?”

Mas Coy diam sebentar.

“Insting.”

“Instingmu itu yang bikin kita sering beli barang yang tidak perlu.”

Dari meja pojok, Bang Jali langsung tertawa.

“Betul, Kak Saroh. Minggu lalu dia beli termos baru padahal termos lama masih bagus.”

Mas Coy menunjuk Bang Jali.

“Jali, jangan ikut campur.”

“Kenapa?”

“Karena utang kopimu belum lunas.”

Bang Jali langsung menunduk.

“Kalau begitu saya diam.”

Ucup yang duduk di sebelahnya ikut tertawa.

“Bang Jali kalau soal utang memang mendadak bijaksana.”

Suasana Lopo Kopi kembali ramai oleh tawa.

Di tengah keramaian itu, seorang pemuda duduk sendirian di meja dekat jendela.

Namanya Fikri.

Sudah hampir satu jam ia berada di sana.

Kopinya masih tersisa separuh.

Ponselnya tergeletak di atas meja, tetapi sejak tadi tidak disentuh.

Matanya sesekali melihat layar ponsel, lalu kembali menatap jalan.

Mas Coy memperhatikannya.

Sebagai pemilik kedai, Mas Coy sudah hafal macam-macam wajah orang yang datang ke Lopo Kopi.

Ada wajah orang yang sedang jatuh cinta.

Ada wajah orang yang sedang menunggu gajian.

Ada wajah orang yang baru dapat rezeki.

Dan ada wajah orang yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Fikri termasuk yang terakhir.

Mas Coy mengambil segelas air putih lalu menghampirinya.

“Minum dulu.”

Fikri mengangkat kepala.

“Saya masih punya kopi, Mas.”

“Itu kopi sudah kamu tatap dari tadi. Kasihan kopinya.”

Fikri tersenyum tipis.

Mas Coy duduk di kursi sebelah.

“Masalah?”

Fikri menggeleng.

“Tidak.”

Mas Coy mengangguk.

“Baik.”

Ia berdiri hendak pergi.

Fikri memanggilnya.

“Mas.”

Mas Coy berhenti.

“Ya?”

“Kalau seseorang sudah berusaha berkali-kali tapi tetap gagal, menurut Mas, dia harus mencoba lagi atau berhenti?”

Mas Coy tidak langsung menjawab.

Dari dapur, Kak Saroh rupanya mendengar pertanyaan itu.

Ia berteriak,

“Coy! Jangan jawab dulu!”

Mas Coy menoleh.

“Kenapa?”

“Pastikan dia sudah bayar kopinya.”

Semua orang tertawa.

Fikri ikut tertawa, meski hanya sebentar.

Kak Saroh kemudian keluar membawa sepiring pisang goreng.

“Nih. Makan dulu. Orang yang sedang banyak pikiran biasanya lupa bahwa perutnya juga punya masalah.”

Fikri menerima piring itu.

“Terima kasih, Kak.”

Kak Saroh duduk sebentar.

“Jadi, gagal apa?”

Fikri menarik napas.

“Saya sudah dua tahun mencoba membuka usaha.”

Bang Jali yang mendengar dari meja sebelah langsung mendekat.

“Usaha apa?”

“Percetakan kecil.”

“Wah, bagus.”

“Awalnya bagus. Tapi kemudian banyak masalah. Modal habis. Pesanan turun. Saya tutup.”

Bang Jali mengangguk pelan.

Fikri melanjutkan,

“Setelah itu saya melamar pekerjaan ke beberapa tempat. Tidak ada yang diterima.”

Ucup ikut mendengarkan.

“Sudah berapa kali melamar?”

“Banyak.”

“Puluhan?”

“Lebih.”

Bang Jali menepuk bahu Fikri.

“Kalau saya jadi kau, saya sudah menyerah.”

Kak Saroh langsung menatapnya.

“Jali.”

“Apa, Kak?”

“Jangan kasih nasihat.”

“Kenapa?”

“Karena kau sendiri setiap bulan bilang mau berhenti merokok, tapi sampai sekarang belum berhenti.”

Ucup tertawa sampai hampir tersedak.

Bang Jali mengangkat kedua tangan.

“Baik. Saya diam lagi.”

Mas Coy tersenyum.

Kemudian ia menatap Fikri.

“Jadi sekarang kamu takut mencoba lagi?”

Fikri mengangguk.

“Saya takut berharap.”

“Kenapa?”

“Karena setiap kali berharap, saya selalu kecewa.”

Kali ini tidak ada yang tertawa.

Pak Darman, yang sejak tadi membaca koran di sudut Lopo Kopi, perlahan melipat korannya.

“Harapan memang bisa membuat orang kecewa,” katanya.

Semua menoleh.

Pak Darman jarang bicara.

“Tapi hidup tanpa harapan juga bisa membuat orang berhenti berjalan.”

Fikri menatapnya.

Pak Darman melanjutkan,

“Dulu saya bekerja hampir tiga puluh tahun. Saya punya banyak rencana. Tidak semuanya terjadi.”

“Bapak kecewa?”

“Sering.”

“Lalu bagaimana Bapak bertahan?”

Pak Darman tersenyum.

“Saya belajar bahwa manusia itu sering kali sibuk meminta Allah mengikuti rencananya.”

Lopo Kopi mendadak hening.

“Kita membuat daftar,” lanjutnya. “Kapan menikah. Kapan punya rumah. Kapan punya pekerjaan. Kapan punya anak. Kapan sukses. Kita merasa kalau semua sesuai jadwal, berarti hidup kita baik.”

Ia berhenti.

“Padahal Allah tidak pernah berjanji mengikuti kalender kita.”

Mas Coy mengangguk pelan.

“Benar.”

Fikri menunduk.

“Mungkin saya terlalu kecewa dengan hidup.”

Kak Saroh menjawab,

“Kecewa itu manusiawi.”

Fikri menatapnya.

“Tapi jangan terlalu lama tinggal di sana,” lanjut Kak Saroh.

“Kenapa?”

“Karena kecewa itu seperti kursi di teras. Boleh duduk sebentar. Jangan dibawa masuk ke kamar dan dijadikan tempat tidur.”

Bang Jali langsung bertepuk tangan.

“Wah, ini baru nasihat.”

Mas Coy menyahut,

“Kalau kau yang ngomong, Jali, mungkin kursinya ikut kecewa.”

Tawa kecil kembali terdengar.

Namun Fikri tersenyum lebih lebar kali ini.

Ada sesuatu yang mulai terasa ringan.

Mas Coy kemudian menuangkan kopi ke gelasnya sendiri.

“Fikri.”

“Ya, Mas?”

“Kau tahu kenapa orang sering takut berjalan setelah jatuh?”

“Takut jatuh lagi?”

“Bukan hanya itu.”

Mas Coy menatapnya.

“Karena mereka mengira kalau jatuh lagi, berarti mereka bodoh.”

Fikri diam.

“Padahal jatuh itu bukan selalu tanda kita bodoh. Kadang itu tanda kita sedang belajar.”

Mas Coy menunjuk jalan di depan Lopo Kopi.

“Lihat orang naik motor itu.”

Fikri melihat.

“Kalau dia melewati jalan berlubang, apa dia berhenti naik motor selamanya?”

“Tidak.”

“Paling dia belajar menghindari lubang yang sama.”

Mas Coy tersenyum.

“Begitu juga hidup.”

Kita tidak selalu harus berjalan cepat.

Ada masa ketika kita perlu berlari.

Ada masa ketika kita perlu berhenti.

Ada masa ketika kita hanya mampu berjalan pelan.

Dan tidak apa-apa.

Sebab setiap orang memiliki luka yang tidak terlihat.

Ada orang yang hari ini sedang mengejar impiannya.

Ada orang yang sedang mengumpulkan keberanian untuk memulai lagi.

Ada yang sedang membayar utang.

Ada yang sedang mencari pekerjaan.

Ada yang sedang mencoba memperbaiki rumah tangga.

Ada yang diam-diam sedang menerima kenyataan bahwa seseorang yang sangat dicintainya tidak akan kembali.

Ada yang setiap malam tersenyum di depan keluarganya, lalu menangis ketika semua orang sudah tidur.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dibawa seseorang di dalam hatinya.

Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi orang yang jalannya lambat.

Mungkin ia bukan malas.

Mungkin ia sedang mengumpulkan tenaga.

Jangan mengejek orang yang belum berhasil.

Mungkin ia sudah mencoba lebih banyak daripada yang kita tahu.

Dan jangan merasa diri kita sudah terlambat hanya karena orang lain lebih dulu sampai.

Hidup bukan perlombaan yang semua pesertanya harus tiba di garis akhir pada waktu yang sama.

Mas Coy mengambil sebuah gelas kosong.

“Lihat gelas ini.”

Bang Jali langsung berkata,

“Jangan bilang ini perumpamaan lagi.”

Mas Coy menatapnya.

“Memang kenapa?”

“Kalau semua benda di Lopo Kopi dijadikan perumpamaan, nanti sendok juga punya filosofi.”

Kak Saroh tertawa.

“Biar saja. Siapa tahu sendok lebih bijaksana daripada kau.”

Mas Coy mengabaikan Bang Jali.

“Gelas kosong tidak berarti tidak berguna.”

Ia mengisi gelas itu dengan air.

“Kadang kita hanya perlu diisi kembali.”

Fikri memperhatikan.

“Manusia juga begitu,” kata Mas Coy.

“Ketika hati kita kosong, jangan langsung menganggap hidup kita gagal. Mungkin kita hanya terlalu lama memberi sampai lupa mengisi diri sendiri.”

Fikri menghela napas.

“Mengisi diri dengan apa?”

Kak Saroh menjawab dari belakang meja,

“Dengan istirahat.”

Mas Coy menambahkan,

“Dengan doa.”

Pak Darman berkata,

“Dengan sabar.”

Ucup ikut menyela,

“Dengan makanan.”

Semua tertawa.

Kak Saroh menunjuk Ucup.

“Kalau kau, semua masalah solusinya makanan.”

“Memangnya salah, Kak?”

“Tidak. Tapi kalau semua masalah selesai dengan makanan, orang paling bahagia di dunia pasti tukang bakso.”

Tawa kembali pecah.

Malam semakin larut.

Satu per satu pelanggan mulai pulang.

Fikri masih duduk di sana.

Namun kali ini wajahnya berbeda.

Ia mengambil ponsel dari meja.

Membuka catatan.

Menulis sesuatu.

Mas Coy melihat dari jauh.

“Apa yang kamu tulis?”

“Rencana.”

“Rencana apa?”

“Besok saya mau coba lagi.”

Mas Coy tersenyum.

“Bagus.”

“Tidak besar.”

“Tidak perlu besar.”

“Cuma kirim beberapa lamaran dan menghubungi teman yang punya usaha.”

“Bagus.”

Fikri mengangguk.

“Saya tidak tahu hasilnya.”

Mas Coy tersenyum.

“Memang.”

“Kalau gagal lagi?”

Mas Coy mengangkat gelas kopinya.

“Besok malam datang ke sini.”

“Untuk apa?”

“Minum kopi.”

“Terus?”

“Kita pikirkan lagi.”

Fikri tertawa.

Kak Saroh dari dapur menyahut,

“Jangan lupa bayar!”

Tawa mereka kembali terdengar.

Di luar, malam semakin sunyi.

Tetapi mungkin di dalam hati Fikri, ada sesuatu yang mulai menyala lagi.

Bukan keyakinan bahwa semuanya akan mudah.

Bukan pula jaminan bahwa besok ia pasti berhasil.

Hanya keberanian kecil untuk mencoba.

Dan terkadang, itu sudah cukup.

Sebab Allah tidak meminta manusia mengetahui seluruh masa depan.

Kita hanya diminta berusaha, berdoa, bersabar, lalu menyerahkan hasilnya kepada-Nya.

Dalam hidup, ada hal-hal yang memang tidak bisa kita paksa.

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk tinggal.

Tidak bisa memaksa rezeki datang sesuai keinginan.

Tidak bisa memaksa usaha langsung berhasil.

Tidak bisa memaksa doa dijawab sesuai waktu yang kita tentukan.

Tetapi kita bisa memilih untuk tetap berjalan.

Pelan-pelan.

Dengan hati yang pernah patah.

Dengan doa yang pernah basah oleh air mata.

Dengan langkah yang mungkin belum tegap.

Tidak mengapa.

Karena berjalan pelan bukan berarti kalah.

Berhenti sebentar bukan berarti menyerah.

Menangis bukan berarti lemah.

Dan memulai kembali bukan berarti kita bodoh karena pernah gagal.

Bisa jadi, justru dari kegagalan itulah kita belajar mengenal diri sendiri.

Belajar membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.

Belajar bahwa tidak semua kehilangan adalah hukuman.

Belajar bahwa tidak semua penundaan adalah penolakan.

Dan belajar bahwa terkadang Allah menutup satu pintu bukan untuk membuat kita tersesat, tetapi agar kita berhenti mengetuk pintu yang memang bukan milik kita.

Malam itu, sebelum Fikri pulang, Mas Coy berkata,

“Fikri.”

“Ya?”

“Jangan terlalu sibuk memikirkan kapan sampai.”

Fikri menatapnya.

“Terus?”

“Pastikan saja langkahmu masih benar.”

Fikri mengangguk.

Ia berdiri, memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan keluar dari Lopo Kopi.

Langkahnya tidak cepat.

Tetapi juga tidak berhenti.

Mas Coy melihatnya dari balik pintu.

Kak Saroh berdiri di sampingnya.

“Kasihan juga anak itu.”

Mas Coy mengangguk.

“Namanya juga manusia.”

Kak Saroh menatap jalan.

“Coy.”

“Hm?”

“Kadang aku juga takut.”

Mas Coy menoleh.

“Takut apa?”

“Takut suatu hari kita kehilangan semua yang kita punya.”

Mas Coy diam sebentar.

Lalu berkata,

“Makanya jangan terlalu mencintai dunia sampai lupa kepada yang punya dunia.”

Kak Saroh tersenyum.

“Tumben kau benar.”

Mas Coy tertawa.

“Tumben?”

“Iya.”

“Padahal setiap hari saya benar.”

“Sudah, tutup kedai.”

Mas Coy menghela napas.

“Nah, ini yang namanya cinta. Baru bicara sedikit sudah disuruh kerja.”

Kak Saroh tertawa sambil mematikan lampu teras.

Lopo Kopi perlahan menjadi gelap.

Tetapi jalan di depan kedai masih diterangi lampu jalan.

Dan entah mengapa, malam itu terlihat tidak sesuram biasanya.

Mungkin karena seseorang baru saja menemukan keberanian untuk berjalan lagi.

Atau mungkin karena kita semua sebenarnya sedang melakukan hal yang sama.

Berjalan.

Dengan cara kita masing-masing.

Ada yang berlari.

Ada yang tertatih.

Ada yang berhenti untuk menangis.

Ada yang duduk sebentar sambil memandang langit.

Tetapi selama hati masih percaya kepada Allah, selalu ada alasan untuk mengambil satu langkah lagi.

Tidak perlu jauh.

Tidak perlu cepat.

Pelan-pelan saja.

Sebab harapan yang pernah patah bukan berarti tidak bisa tumbuh kembali.

Dan hati yang pernah terluka bukan berarti tidak bisa merasakan bahagia lagi.

Mungkin hari ini belum.

Mungkin besok juga belum.

Tetapi percayalah, selama Allah masih memberi kita napas, cerita kita belum selesai.

Masih ada halaman yang belum dibaca.

Masih ada doa yang belum kita panjatkan.

Masih ada jalan yang belum kita tempuh.

Dan mungkin, di suatu tempat yang belum kita kenal, ada jawaban yang sedang Allah siapkan untuk semua kesabaran yang selama ini kita kira sia-sia.

Jadi, kalau malam ini langkahmu terasa berat, istirahatlah.

Minum air.

Tarik napas.

Berdoalah.

Setelah itu, kalau sudah sedikit kuat, berjalanlah lagi.

Pelan-pelan.

Karena tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan berlari.

Kadang, perjalanan paling jauh justru dimulai dari satu langkah kecil yang kita ambil setelah hati berkali-kali berkata,

“Aku sudah tidak sanggup lagi.”

Dan mungkin, tepat setelah kalimat itu, Allah sedang mengajarkan kita satu hal:

“Kamu tidak harus sanggup sendirian.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *